Tes Paragraf

Friday, December 21, 2018

TURKISTAN, Negeri Muslim Yang Hilang dan Derita Muslim Uyghur

Republik Turkestan Timur Pertama (RTTP), atau Republik Islam Turki Turkestan Timur adalah republik islam yang didirikan pada tahun 1933. Deklarasi Turkistan Timur (12 November 1933) di Kasghar, diperkirakan dihadiri oleh 25,000 orang dan 12,000 diantaranya adalah angkatan bersenjata muslim. Negara ini dipusatkan di kota Kasghar yang kini dikelola Daerah Otonom Uighur Xinjiang. Meskipun negara ini adalah program gerakan kemerdekaan dari Uighur, penduduk yang hidup di sana, RTT adalah wilayah yang didominasi etnis Turki, termasuk Kirgiz, dan lainnya Turki dalam pemerintahan dan penduduknya.
Republik Turkestan Timur Pertama dihapuskan dengan penghapusan Kasghar pada tahun 1934 oleh kepala suku Hui  yang secara teoretis bersekutu dengan pemerintah Kuomintang   di Nanjing. Namun, tinggalannya menjadi aspirasi pembentukan Republik Turkestan Timur Kedua satu dekade kemudian, dan terus mempengaruhi pendukung nasionalis Uyghur modern untuk mendirikan sebuah negara Turkistan Timur merdeka. Isa Alptekin adalah sekjen untuk Republik Turkestan Timur Pertama.
Banyak orang tak mengenal negeri Turkistan. Tetapi bagi umat Islam, tak kenal dengan salah satu negeri Islam yang kemasyhurannya hampir menyamai Andalusia, sangatlah aib.
Bukankah nama-nama ilmuwan kita berasal dari sana? Al-Bukhari, Al-Biruni, Al-Farabi, Abu Ali Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh lainnya yang sampai kini merupakan tokoh-tokoh paling tak terlupakan umat Islam, berasal dari negeri tersebut.
Turkistan terletak di Asia Tengah dengan penduduk mayoritas keturunan Turki, merupakan salah satu benteng kebudayaan dan peradaban Islam.
Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berfikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi pencaplokan wilayah teritorial.
Cina mulai bergerak menaklukkan Turkistan Timur dan kemudian merubah namanya menjadi Xinjiang, sementara Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia.
Atas aksi ekspansionis tersebut, Turkistan negeri Islam tersebut kini benar-benar telah raib (musnah) dari peta dunia. Penjajah Komunis Rusia dan Cina telah memecah-belahnya menjadi negara-negara boneka yang kini termasuk bagian dari Republik Sosialis Unisoviet dan Republik Rakyat Cina, dua komunis terbesar di dunia.
1. Turkistan Barat
Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakestan, dan Republik Soviet Kirgistan.
Mereka akhirnya menjadi 5 negara kecil-kecil bernama Uzbekistan, Kazakstan, Turkmenistan, Kirzigistan dan Tazikistan.
Tidak itu saja, pada tahun 1928 Rusia membuat suatu tim untuk merubah Bahasa Turki dan Huruf Arab di 5 negara itu menjadi bahasa Latin dan kemudian diubah menjadi Bahasa Rusia.
Namun kelima negara yang berhasil merdeka itu masih bisa melakukan kegiatan keagamaan Islam dengan bebas dibanding Turkistan timur yang dikuasai Cina.
2. Turkistan Timur
Komunis Cina telah mengadakan penghancuran total di Turkistan Timur. Sering kita mendengar Cina melarang muslim xinjiang berpuasa, melarang shalat berjamaah terbuka, melarang kegiatan tabligh akbar, menangkap mahasiswa muslim yang kuliah di timur tengah dan sebagainya.
Agama Islam, umatnya, kebudayaan dan sejarahnya hendak dibumi-hanguskan dengan segala kekejaman yang kelewat batas. Cina sudah melanggar hak-hak beribadah agama muslim Turkistan timur.
Senyap tapi pasti, Cina menjalankan operasi militer yang sistematis untuk membersihkan 15 juta etnis uyghur Muslim di Xinjiang. Wilayah tersebut sebetulnya adalah Turkistan Timur hingga Cina mulai menduduki dan menjajah area tersebut di tahun 1949.


Lebih lanjut lagi, Cina tidak melakukan menghilangkan jejak kekerasan mereka di kehidupan Muslim Uyghur sebelumnya. Hal ini seperti mimpi buruk yang kembali muncul, menampilkan genosida yang dilakukan di abad sebelumnya. Memori itu sengaja dihidupkan kembali di internet dan media, hari-hari terkelam negara Komunis. Sebuah periode “revolusi kultur”, ketika orang-orang dan daerah-daerah agamis dihapuskan dari negara tersebut.
Akan tetapi, selama tahun 1970 hingga 1980, Cina semakin terbuka dan melunakkan sikapnya terhadap minoritas baik etnis maupun agama. Namun di balik itu, minoritas tetap terjepit dari sisi ekonomi, politik dan keagamaan mereka.
Muslim Uyghur mencoba menyerukan kembali kemerdekaan mereka, karena memang status mereka sebagai negara berdaulat Republik Turkistan Timur, Meski negara tersebut hanya sesaat di tahun 1940 sebelum ada campur tangan Cina. Mengetahui hal itu, Cina yang takut akan berkembangnya gerakan separatis di perbatasan barat, mulai melakukan tindakan keras terhadap Xinjian di akhir 1990-an.
Keberadaan sekolah Islam, masjid dan imam dikontrol secara ketat, dan para imam diharuskan “berdiri di sisi pemerintah dengan teguh dan menyampaikan pendapatnya dengan tidak samar-samar.”
Sejak 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam.
Pemerintah juga secara resmi menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini juga mencakup larangan shalat, puasa di bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara. Di bidang tenaga kerja bisnis dan pemerintahan, orang-orang Muslim sering dihambat dari jabatan yang tinggi.
Kekerasan yang dilakukan oleh Cina semakin menjadi-jadi ketika AS mendeklarasikan “perang terhadap terorisme” di tahun 2001. Cina menggunakan kesempatan itu untuk menggambarkan Muslim Uyghur sebagai bagian dari kebangkitan jihadis global, sampai-sampai mereka mengaitkan mimpi nasionalisme Uyghur dengan tujuan kelompok teror Al-Qaeda.
Dalam pelaksanaannya, Cina bertaruh bahwa mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau terhadap muslim uyghur selama mereka bisa mengelabui Barat untuk percaya bahwa Uyghur adalah bagian dari Islam Radikal.
Tetapi operasi militer Cina telah melampaui batas hingga menjadi pembunuhan masal. Kasus di Cina bisa jadi adalah terbesar di dunia yang disponsori oleh negara.
Cina telah melarang syiar Islam dalam bentuk apapun di Turkistan Timur, memaksa Muslim Uyghur untuk mengumumkan kemurtadan mereka di muka umum dan bersumpah setia terhadap negara komunis. Baru-baru ini saya mem-post video twitter bahwa otoritas Cina mengabarkan pada kelompok Muslim Uyghur bahwa mereka sekarang dilarang untuk menyalami satu sama lain dengan salam Islam, “Assalaamu’alaikum”.
Tulisan Islam juga dilarang, termasuk Qur’an. Jenggot yang terlihat “tidak normal” atau “terlalu muslim” juga dilarang. Tahun lalu, Cina mempublikasikan dokumen berjudul “Aturan penamaan bagi etnis minoritas” yang melarang nama yang diasosiasikan dengan Islam, termasuk Medina, Islam, Imam, Hajj, dan lainnya.
“Dengan membatasi penamaan Uyghur, Pemerintah Cina sebenarnya telah melakukan persekusi politik dengan bahasa lain,” kata Dilxat Raxit, juru bicara kelompok World Uyghur Congress terhadap Radio Free Asia. “Mereka takut orang-orang dengan nama tersebut akan menjadi asing dari aturan-aturan Cina di area tersebut.”
Hal-hal ini adalah contoh dari bagian dari kebijakan restriktif dan diskriminatif yang dipaksakan terhadap mereka yang tinggal di area tersebut. Muslim Uyghur sekarang harus memiliki alat pelacak terinstall di mobil dan telepon genggam mereka.
Penamaan bayi, jenggot, dan alat pelacak hanyalah puncak gunug es dari seluruh masalah yang dihadapi oleh Muslim Uyghur, jika dibandingkan dengan operasi militer Cina yang brutal. Penyiksaan, pemenjaraan, hukuman bunuh oleh negara dan penculikan telah menjadi realitas baru di area Xinjiang.
Menurut laporan dari pengamat HAM, Cina telah memerintahkan pejabatnya di Xinjiang untuk mengirimkan hampir setengah populasinya untuk menjalani “kamp edukasi ulang”, yang sebenarnya berisi kerja paksa dan kamp indoktrinasi, hal yang sudah lama ini diasosiasikan dengan Korea Utara.
“Kami menarget orang-orang agamis contohnya, mereka yang memanjangkan jenggot meskipun masih muda,” salah satu pejabat cina mengakui dalam laporan tersebut.
Ketika aku berbicara dengan Abdugheni  Thabit, jurnalis muslim uyghur yang sekarang tinggal di Belanda, dia mengatakan padaku bahwa saat ini terdapat satu juta orang uyghur yang berada di “kamp penjara”. Steven Zhang, Muslim Hui yang saat ini tinggal di Houston, Texas, dan juga orang yang menuntut pemerintah Cina atas pembunuhan istrinya yang muslim Uyghur, mengatakan bahwa penggambaran Thabit sangat konservatif. Menurutnya, “Dalam lima tahun terakhir setidaknya 5 juta Uyghur telah ditahan atau menghilang secara tiba-tiba.”
Penculikan juga telah menjadi tren yang mengkhawatirkan dan menonjol dalam dua tahun ini. menurut Chinese Human Rights Defenders, aparat keamanan Cina telah menculik setidaknya 26 jurnalis, penulis, blogger dan aktifis HAM.
“Korban seringkali diculik dengan kekerasan, menolak hak mereka terhadap hukum dan kontak dengan keluarga serta pengacara. Mereka juga memiliki resiko tinggi untuk menghadapi siksaan selama masa penahanan,” menurut hasil pengamatan Asosiasi Uyghur Amerika.
Semua yang terjadi tersebut keluar dari pandangan komunitas Internasional, utamanya karena kontrol Cina yang kuat terhadap Internet dan media sosial. Thabit mengatakan padaku bahwa ia belum mendapatkan kabar sama sekali dari keluarga muslim uyghur di Turkistan Timur sejak tahun 2009, karena Cina mengontrol seluruh bentuk komunikasi yang keluar dari area tersebut. Yang dia tahu adalah bahwa mereka masih hidup di tahun 2014, ketika adiknya yang hidup di washington DC berkunjung. Sekali lagi, mirip dengan Korea Utara.
Situasi di Xinjiang telah menjadi lebih buruk, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh US Congressional Executive Commission on China (CECC) di awal bulan ini.
“Warga sipil ditahan tanpa alasan, kamp ‘edukasi politis’ menjamur, dan pengawasan masal menginvasi seluruh aspek dari kehidupan sehari-hari. Pelanggaran terhadap HAM ini sangat berbahaya dan beresiko sebagai katalis dari radikalisasi,” kata presiden CECC Sen. Marco Rubio (R-FL).
Menurut Human Rights Watch, suku Uighur khususnya, dipantau secara sangat ketat. Mereka harus memberikan sampel biometrik dan DNA. Dilaporkan terjadi penangkapan terhadap mereka yang memiliki kerabat di 26 negara yang dianggap 'sensitif'. Dan hingga satu juta orang telah ditahan.
Kelompok-kelompok HAM mengatakan orang-orang di kamp-kamp itu dipaksa belajar bahasa Mandarin dan diarahkan untuk mengecam, bahkan meninggalkan keyakinan iman mereka.
Penderitaan tambahan bagi Muslim Uyghur adalah tidak adanya teman di manapun di sistem internasional. Sekutu tradisional Turki dan Pakistan telah terbawa dalam pusaran pengaruh ekonomi Cina, sementara negara-negara kaya Arab terlalu sibuk dengan Iran, Qatar, atau keduanya.
Jika sejarah adalah petunjuk, dan jika penderitaan Muslim Uyghur tidak kunjung terdengar oleh komunitas Internasional, maka kita bisa pastikan bahwa saat di mana program re-edukasi dan asimilasi Cina gagal, maka pemusnahan masal pasti akan mengikutinya.

Sumber:
https://alimancenter.com/artikel/berita/sejarah/turkistan-timur-negeri-islam-yang-hilang-dan-perlu-merdeka/

0 komentar:

Post a Comment