Ujung Jalan

Akhir perjalanan adalah maut. Dunia adalah kendaraan seorang mukmin, yang dengannya dia berangkat menuju Tuhanya. Maka perbaikilah kendaraan kalian, niscaya ia akan membawa kepada Tuhan kalian.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah di atas laut

Senja di Perkampungan Suku Laut. Usiaku memasuki rembang petang digerogoti oleh zaman, mentari sebentar lagi kan tenggelam berganti dengan malam.

KEANGKUHAN

Ketegaranku untuk mempertahankan kokohnya pendirian. Aku berdiri tegak ditopang dengan dengan kekuatan yang maha dahsyat.

KINCIR ANGIN

Tak pernah lelah aku selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Kadang aku berada diatas kadang di bawah selalu berganti. Aku bekerja siang dan malam.

Tes Paragraf

Friday, May 31, 2013

DIALOG DENGAN JIN MUSLIM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم




Jin (bahasa arab: جن Janna) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi "tersembunyi" atau "tidak terlihat". Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia itu. (Wikipedia).
Menurut ajaran Islam, jin dapat melihat manusia, namun sebaliknya manusia tidak dapat melihat mereka dalam wujud aslinya. Jikalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'rof 7:27)
Seperti halnya manusia mereka hidup berkembangbiak dan juga bermasyarakat.  Dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim yang ditulis oleh Muhammad Isa Dawud dikupas seputar Rahasia kehidupan Jin (dari mulai awal penciptaan, perkembangbiakan, tempat tinggal, masyarakat, jenis-jenis jin, masuknya jin ke dalam diri manusia), mengungkap berbagai misteri besar yang terjadi di dunia seperti misteri Segitiga Bermuda, Setitiga Formosa dan rahasia pesihir besar David Copperfield. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah difahami, dan bisa dijadikan rujukan bagi orang yang senang menelusuri kehidupan jin. Bagi anda yang belum pernah membacanya dan merasa penasaran? Tidak usah mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis karena akan saya kasihkan dalam bentuk buku digital yang ditinggal di download. Untuk mendapatkan buku tinggal klik disini  semoga buku ini bisa bermanfaat dan menambahkan keimanan kita sebagai seorang Muslim. Amiin.

Friday, May 24, 2013

Kunci Rezeki


Rezeki berasal dari bahasa arab Ar-Rizqu yang secara bahasa artinya  pemberian.  Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (porsi), yaitu bagian seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain. Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (porsi yang diberikan).  Jadi, kata rizki  dapat diartikan sebagai:  Pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja, tidak terbatas pada materi dengan porsi yang sudah ditentukan-Nya.
Setiap manusia diciptakan lengkap dengan rezekinya, dan kita tidak disuruh mencari rezeki tetapi justru harus menjemput jatah rezeki kita, karena tidak mungkin Allah menciptakan perut kecuali dengan isinya sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur'an surat Huud ayat 6, "Dan tidak ada sesuatu yang melata di bumi melainkan Allah yang meberi rezekinya."
Adapun cara-cara untuk mempercepat datangnya Rezeki adalah sebagai berikut:


1. Memohon ampun
Rasululloh bersabda, barangsiapa yang sering membaca istigfar niscaya Alloh akan menghilangkan segala kegundahan dan kesusahan serta dikaruniakan rezeki yang tidak diduga-duga. (HR. Abu Daud)
2. Takwa
...Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya...(QS 65: 2-3
3. Tawakal
...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkannya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS 65: 3)
4. Khusu Beribadah
5. Melaksanakan haji dan umroh
6. Sedekah
 Alloh telah berjanji, barang siapa yang bersyukur terhadap nikmat yang ada, maka Alloh akan     menambah nikmatnya. Oleh karena itu, setiap kita mendapatkan rezeki keluarkan zakat dan sedekahnya, karena harta kita tidak akan berkurang dengan sedekah. Sebaliknya, harta akan bertambah, dan bertambah. Inilah rumusnya. Seperti firman Allah dalam Al Qu'ran surat Ibrahim ayat 7, "...sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)  kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih"
7. Berbuat baik kepada orang miskin dan lemah
8. Berdo'a untuk keselamatan orangtua

Pelestarian Makhluk Hidup

Keanekaragaman dan Upaya Pelestarian Makhluk Hidup

Keanekaragaman dan Upaya Pelestarian Makhluk Hidup

ANUNK

This interactive crossword puzzle requires JavaScript and any recent web browser, including Windows Internet Explorer, Mozilla Firefox, Google Chrome, or Apple Safari. If you have disabled web page scripting, please re-enable it and refresh the page. If this web page is saved on your computer, you may need to click the yellow Information Bar at the top or bottom of the page to allow the puzzle to load.
--> -->

--> -->

Saturday, May 18, 2013

UTANG DAN AZAB KUBUR

Seorang guru sebuah Sekolah  Dasar terancam di pecat dari lingkungan tempatnya ia bekerja,  ada pun alasannya sudah lama tidak masuk kelas untuk menunaikan tugas utamanya mengajar. Usut punya usut ternyata penyebab utamanya  ia jarang datang di sekolah adalah masalah utang piutang. Ia terjerat utang kepada pada banyak pihak, ketika berada di sekolah atau pun di rumah ia selalu saja di datangi oleh penagih utang. Akhirnya untuk menghindari penagih utang dia pergi dari rumah dan sering meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pegawai negeri sipil. Hal ini terjadi karena perilaku yang terlalu konsumtif sehingga besar pasak dari pada tiang, untuk menutupi kebutuhannya berutang kesana kemari.
Hendaklah kita tidak mudah terjebak dengan utang. Kalau kita tak terlalu membutuhkan barang itu, kenapa kita harus berutang untuk mendapatkannya? Di zaman yang serba canggih ini, memang tidak ada yang sulit untuk kita lakukan. Ada kartu kredit, pinjaman tanpa agunan dan sebagainya yang bila kita membutuhkannya tinggal gesek saja. Barang yang kita inginkan pun didapatkan. Tetapi kita sudah dikondisikan untuk bisa melunasinya karena dikontrol oleh bank.
Yang jadi masalah apabila kita berutang pada orang lain yang bukan institusi. Sebab kerapkali kita lupa untuk melunasi utang-utang tersebut apalagi nilai nominalnya kecil. Sementara orang yang diutangi pun malu untuk menagihnya walaupun dalam hati kecilnya ia sangat membutuhkan. Jika kita melakukan hal yang sama kepada beberapa orang betapa ruginya kita karena satu utang saja akan menjadi masalah di alam kubur dan akhirat kelak. Apalagi kalau kita utang pada banyak orang.
Ada sebuah kisah dari Sayyid Ali, seorang yang mulia, alim wara’. Dia adalah putera ulama besar,seorang faqih yang mulia dan teladan dalam perjalanan ruhani yaitu Al-Amir Sayyid Hasan bin Al-Amir Sayyid Muhammad Baqir bin Al-Amir Ismail Al-Isfahani. Ia berkisah sebagai berikut: “Setelah ayahku meninggal, aku tinggal di Masyhad (Iran) untuk menuntut ilmu. Samapai sekarang aku tidak banyak tahu tentang urusan ayahku secara detail. Yang lebih tahu adalah saudara-saudaraku. Setelah tujuh bulan ayahku wafat, ibuku menyusul ke alam baqa. Jenazah ibuku dibawa dan dikuburkan di Najef (Irak).
“Tidak lama kemudian aku bermimpi: seolah-olah aku duduk di rumahku. Ketika ayahku masuk, aku berdiri dan mengucapkan salam. Kemudian ia duduk di depanku dan menyapaku dengan lemah lembut, dan aku tahu bahwa ia telah meninggal. Lalu aku bertanya: Bukankah ayah telah meninggal di Isfahan?
“Ayahku menjawab: ya, tapi mereka memindahkan aku ke Najef, dan aku sekarang tinggal di sana.
Aku bertanya: “Ibu di dekat ayah?”
Ayahku menjawab:”Tidak”
Aku bertanya:”Ibu tidak tinggal di Najef?”
Ayahku menjawab:”Ya, tapi di tempat lain.”
“Aku baru tahu bahwa tempat tinggal orang alim lebih mulia dari ora yang tidak alim.”
Kemudian aku bertanya tentang keadaanya. Ayahku menjawab:”Dahulu kuburku kesempitan dan sekarang alhamdulillah dalam kedaan yang baik. Kesempitan dan himpitan menghilang dariku.”
Aku heran atas kejadian itu dan bertanya: “Ayah dalam kesempitan?”
Ayahku menjawab: “Ya, karena Haji Ridha bin A’a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan keburukan keadaanku.”
Aku bertambah heran. Lalu aku terbangun dari tidurku dalam keadaan takut dan heran. Kemudian aku mengirim surat kepada saudaraku tentang wasiat ayahku dalam mimpiku. Dalam suratku aku bertanya, apakah ayahku pernah berutang kepadanya.
Orang tersebut berkata: “Ya, ayahmu punya utang kepadaku sebesar delapan belas Tuman (mata uang Iran), dan tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Allah. Setelah wafatnya aku pernah bertanya kepadamu: apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu? Kamu menjawab tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak, karena aku pernah meminjamkan uang padanya tanpa bukti secarik kertas, dan aku yakin ia tidak mencatat dalam buku hariannya. Saat itu aku pulang dengan hati yang kecewa.
“Kemudian saudaraku berkata kepadanya bahwa aku bermimpi hal itu, dan akan membayarkan utang ayahku. Kemudian orang tersebut berkata: karena berita dari saudaramu ini, sekarang utangnya aku relakan dan aku ikhlaskan.”
Kisah yang dikutip oleh Syeikh An-Nuri dalam kitabnya yang berjudul Dar As-Salam 2: 164 ini menunjukkan kepada kita bahwa utang itu ternyata sangat berpengaruh pada nasib kita kelak di alam kubur. Jika kita masih dalam kondisi berutang lalu meninggal dunia, maka kelak kondisi kita akan dipersulit sebelum utang kita ada yang melunasinya atau orang yang mengutangi kita mengikhlaskannya.
Kasus di atas menunjukkan pada kita bahwa orang saleh pun akan mengalami hal yang kurang nyaman di dalam kuburnya karena utang yang belum dilunasinya. Jadi, kita jangan menganggap sepele pada utang meski kecil sekalipun.
Bahkan, dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa ruh orang meninggal dunia akan ditahan di tempatnya karena utang yang belum dilunasinya. Hal ini diketahui berdasarkan hadits Nabi, “Ruh seorang mukmin tertahan karena utangnya hingga ia dilunasi.”(HR Ahmad dalam Al-Musnad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Menurut Al-Iraqi, maksud tertahan dari hadits di atas adalah “Tertahan pada tempatnya yang mulia.” Dikatakan olehnya bahwa urusan orang mulia yang berutang itu di diamkan, tidak dapat dihukumi bahwa ia selamat atau binasa hingga dilihat apakah utangnya yang menjadi tanggungannya dilunasi atau tidak. “Jadi, utang akan menimbulkan azab kubur hingga dilunasi,” tulis M. Abdul Malik Az-Zaghabi dalam “82 Pertanyaan tentang Alam Kubur”.
Mas’ad bin Al-Athwal berkisah bahwa saudaranya meninggal dengan mewariskan 300 dirham serta meninggalkan keluarganya yang menjadi tanggunannya. Mas’ad berkata, Saya hendak menginfakkan seluruh warisannya kepada keluarga yang ditinggalkan.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya saudaramu tertahan karena utangnya, (pergilah) dan lunasilah utangnya.”
Maka saya pun melunasinya. Kemudian saya menghadap Rasulullah, saya telah melunasinya kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang wanita, namun dia tidak memiliki bukti.” Rasulullah bersabda, “Berikanlah kepadanya karena dia memang yang berhak.”(HR. Ibnu Majah, Ahmad dan al-Baihaqi).
Kisah lain datang dari Samurah bin Jundab bahwa Nabi pernah menyalati seorang jenazah-dalam riwayat lain shalat Subuh. Ketika pulang, beliau bertanya, “Apakah di sini ada anggota keluarga si fulan?” Kaum yang ditanya diam saja. Dan memang begitulah kebiasaan mereka. Jika didahului dengan pertanyaan, mereka diam. Maka Nabi melontarkan pertanyaan beberapa kali dan tidak seorang pun yang menjawabnya). Seorang laki-laki berkata, “Ada itulah orangnya!”.
Berdirilah seorang laki-laki menyeret kainnya dari barisan paling belakang. Nabi berkata kepadanya, ”Apa yang menghalangi mu tidak menjawab pertanyaanku yang pertama dan yang kedua? Sedang aku, tidak memanggil nama kalian kecuali demi kebaikan. Sesungguhnya fulan –kepada seorang laki-laki dari mereka- tertahan oleh utangnya (dari surga). Terserah kalian apakah akan melunasinya atau membiarkannya dalam azab kubur. Andai saja ada anggota kelurganya atau orang lain yang peduli membayarkan utangnya, hingga tidak ada seorang pun yang menuntutnya.” (HR Abu Daud, An-Nasai, Al-Baihaqi dan al-Hakim).
Begitu vitalnya masalah utang ini, hingga jihadnya seorang hamba di jalan Allah (mati syahid) pun tidak bisa menghapusnya. Abdullah bin Amer meriwayatkan sabda Nabi, “Terbunuh di jalan Allah menghapuskan segala dosa kecuali utang.”(HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasai, At-Tirmidzi, Malik dan Darimi).
Bayangkan, seorang syahid tidak lantas masuk surga jika ia masih memiliki utang. Selama utang itu belum di bayar, keadaannya digantung di akhirat nanti, apakah ia masuk surga atau neraka. Setelah utangnya dipastikan terbayar, ia baru divonis Allah untuk masuk surga. Jadi, betapa urgensinya nilai nilai sebuah utang ini, meski sangat kecil sekalipun angkanya. Sekali lagi, janganlah kita menganggap remeh pada utang.
Sumber: Majalah  Hidayah Edisi 89 Januari 2009