Ujung Jalan

Akhir perjalanan adalah maut. Dunia adalah kendaraan seorang mukmin, yang dengannya dia berangkat menuju Tuhanya. Maka perbaikilah kendaraan kalian, niscaya ia akan membawa kepada Tuhan kalian.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah di atas laut

Senja di Perkampungan Suku Laut. Usiaku memasuki rembang petang digerogoti oleh zaman, mentari sebentar lagi kan tenggelam berganti dengan malam.

KEANGKUHAN

Ketegaranku untuk mempertahankan kokohnya pendirian. Aku berdiri tegak ditopang dengan dengan kekuatan yang maha dahsyat.

KINCIR ANGIN

Tak pernah lelah aku selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Kadang aku berada diatas kadang di bawah selalu berganti. Aku bekerja siang dan malam.

Tes Paragraf

Friday, May 24, 2013

Pelestarian Makhluk Hidup

Keanekaragaman dan Upaya Pelestarian Makhluk Hidup

Keanekaragaman dan Upaya Pelestarian Makhluk Hidup

ANUNK

This interactive crossword puzzle requires JavaScript and any recent web browser, including Windows Internet Explorer, Mozilla Firefox, Google Chrome, or Apple Safari. If you have disabled web page scripting, please re-enable it and refresh the page. If this web page is saved on your computer, you may need to click the yellow Information Bar at the top or bottom of the page to allow the puzzle to load.
--> -->

--> -->

Saturday, May 18, 2013

UTANG DAN AZAB KUBUR

Seorang guru sebuah Sekolah  Dasar terancam di pecat dari lingkungan tempatnya ia bekerja,  ada pun alasannya sudah lama tidak masuk kelas untuk menunaikan tugas utamanya mengajar. Usut punya usut ternyata penyebab utamanya  ia jarang datang di sekolah adalah masalah utang piutang. Ia terjerat utang kepada pada banyak pihak, ketika berada di sekolah atau pun di rumah ia selalu saja di datangi oleh penagih utang. Akhirnya untuk menghindari penagih utang dia pergi dari rumah dan sering meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pegawai negeri sipil. Hal ini terjadi karena perilaku yang terlalu konsumtif sehingga besar pasak dari pada tiang, untuk menutupi kebutuhannya berutang kesana kemari.
Hendaklah kita tidak mudah terjebak dengan utang. Kalau kita tak terlalu membutuhkan barang itu, kenapa kita harus berutang untuk mendapatkannya? Di zaman yang serba canggih ini, memang tidak ada yang sulit untuk kita lakukan. Ada kartu kredit, pinjaman tanpa agunan dan sebagainya yang bila kita membutuhkannya tinggal gesek saja. Barang yang kita inginkan pun didapatkan. Tetapi kita sudah dikondisikan untuk bisa melunasinya karena dikontrol oleh bank.
Yang jadi masalah apabila kita berutang pada orang lain yang bukan institusi. Sebab kerapkali kita lupa untuk melunasi utang-utang tersebut apalagi nilai nominalnya kecil. Sementara orang yang diutangi pun malu untuk menagihnya walaupun dalam hati kecilnya ia sangat membutuhkan. Jika kita melakukan hal yang sama kepada beberapa orang betapa ruginya kita karena satu utang saja akan menjadi masalah di alam kubur dan akhirat kelak. Apalagi kalau kita utang pada banyak orang.
Ada sebuah kisah dari Sayyid Ali, seorang yang mulia, alim wara’. Dia adalah putera ulama besar,seorang faqih yang mulia dan teladan dalam perjalanan ruhani yaitu Al-Amir Sayyid Hasan bin Al-Amir Sayyid Muhammad Baqir bin Al-Amir Ismail Al-Isfahani. Ia berkisah sebagai berikut: “Setelah ayahku meninggal, aku tinggal di Masyhad (Iran) untuk menuntut ilmu. Samapai sekarang aku tidak banyak tahu tentang urusan ayahku secara detail. Yang lebih tahu adalah saudara-saudaraku. Setelah tujuh bulan ayahku wafat, ibuku menyusul ke alam baqa. Jenazah ibuku dibawa dan dikuburkan di Najef (Irak).
“Tidak lama kemudian aku bermimpi: seolah-olah aku duduk di rumahku. Ketika ayahku masuk, aku berdiri dan mengucapkan salam. Kemudian ia duduk di depanku dan menyapaku dengan lemah lembut, dan aku tahu bahwa ia telah meninggal. Lalu aku bertanya: Bukankah ayah telah meninggal di Isfahan?
“Ayahku menjawab: ya, tapi mereka memindahkan aku ke Najef, dan aku sekarang tinggal di sana.
Aku bertanya: “Ibu di dekat ayah?”
Ayahku menjawab:”Tidak”
Aku bertanya:”Ibu tidak tinggal di Najef?”
Ayahku menjawab:”Ya, tapi di tempat lain.”
“Aku baru tahu bahwa tempat tinggal orang alim lebih mulia dari ora yang tidak alim.”
Kemudian aku bertanya tentang keadaanya. Ayahku menjawab:”Dahulu kuburku kesempitan dan sekarang alhamdulillah dalam kedaan yang baik. Kesempitan dan himpitan menghilang dariku.”
Aku heran atas kejadian itu dan bertanya: “Ayah dalam kesempitan?”
Ayahku menjawab: “Ya, karena Haji Ridha bin A’a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan keburukan keadaanku.”
Aku bertambah heran. Lalu aku terbangun dari tidurku dalam keadaan takut dan heran. Kemudian aku mengirim surat kepada saudaraku tentang wasiat ayahku dalam mimpiku. Dalam suratku aku bertanya, apakah ayahku pernah berutang kepadanya.
Orang tersebut berkata: “Ya, ayahmu punya utang kepadaku sebesar delapan belas Tuman (mata uang Iran), dan tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Allah. Setelah wafatnya aku pernah bertanya kepadamu: apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu? Kamu menjawab tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak, karena aku pernah meminjamkan uang padanya tanpa bukti secarik kertas, dan aku yakin ia tidak mencatat dalam buku hariannya. Saat itu aku pulang dengan hati yang kecewa.
“Kemudian saudaraku berkata kepadanya bahwa aku bermimpi hal itu, dan akan membayarkan utang ayahku. Kemudian orang tersebut berkata: karena berita dari saudaramu ini, sekarang utangnya aku relakan dan aku ikhlaskan.”
Kisah yang dikutip oleh Syeikh An-Nuri dalam kitabnya yang berjudul Dar As-Salam 2: 164 ini menunjukkan kepada kita bahwa utang itu ternyata sangat berpengaruh pada nasib kita kelak di alam kubur. Jika kita masih dalam kondisi berutang lalu meninggal dunia, maka kelak kondisi kita akan dipersulit sebelum utang kita ada yang melunasinya atau orang yang mengutangi kita mengikhlaskannya.
Kasus di atas menunjukkan pada kita bahwa orang saleh pun akan mengalami hal yang kurang nyaman di dalam kuburnya karena utang yang belum dilunasinya. Jadi, kita jangan menganggap sepele pada utang meski kecil sekalipun.
Bahkan, dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa ruh orang meninggal dunia akan ditahan di tempatnya karena utang yang belum dilunasinya. Hal ini diketahui berdasarkan hadits Nabi, “Ruh seorang mukmin tertahan karena utangnya hingga ia dilunasi.”(HR Ahmad dalam Al-Musnad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Menurut Al-Iraqi, maksud tertahan dari hadits di atas adalah “Tertahan pada tempatnya yang mulia.” Dikatakan olehnya bahwa urusan orang mulia yang berutang itu di diamkan, tidak dapat dihukumi bahwa ia selamat atau binasa hingga dilihat apakah utangnya yang menjadi tanggungannya dilunasi atau tidak. “Jadi, utang akan menimbulkan azab kubur hingga dilunasi,” tulis M. Abdul Malik Az-Zaghabi dalam “82 Pertanyaan tentang Alam Kubur”.
Mas’ad bin Al-Athwal berkisah bahwa saudaranya meninggal dengan mewariskan 300 dirham serta meninggalkan keluarganya yang menjadi tanggunannya. Mas’ad berkata, Saya hendak menginfakkan seluruh warisannya kepada keluarga yang ditinggalkan.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya saudaramu tertahan karena utangnya, (pergilah) dan lunasilah utangnya.”
Maka saya pun melunasinya. Kemudian saya menghadap Rasulullah, saya telah melunasinya kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang wanita, namun dia tidak memiliki bukti.” Rasulullah bersabda, “Berikanlah kepadanya karena dia memang yang berhak.”(HR. Ibnu Majah, Ahmad dan al-Baihaqi).
Kisah lain datang dari Samurah bin Jundab bahwa Nabi pernah menyalati seorang jenazah-dalam riwayat lain shalat Subuh. Ketika pulang, beliau bertanya, “Apakah di sini ada anggota keluarga si fulan?” Kaum yang ditanya diam saja. Dan memang begitulah kebiasaan mereka. Jika didahului dengan pertanyaan, mereka diam. Maka Nabi melontarkan pertanyaan beberapa kali dan tidak seorang pun yang menjawabnya). Seorang laki-laki berkata, “Ada itulah orangnya!”.
Berdirilah seorang laki-laki menyeret kainnya dari barisan paling belakang. Nabi berkata kepadanya, ”Apa yang menghalangi mu tidak menjawab pertanyaanku yang pertama dan yang kedua? Sedang aku, tidak memanggil nama kalian kecuali demi kebaikan. Sesungguhnya fulan –kepada seorang laki-laki dari mereka- tertahan oleh utangnya (dari surga). Terserah kalian apakah akan melunasinya atau membiarkannya dalam azab kubur. Andai saja ada anggota kelurganya atau orang lain yang peduli membayarkan utangnya, hingga tidak ada seorang pun yang menuntutnya.” (HR Abu Daud, An-Nasai, Al-Baihaqi dan al-Hakim).
Begitu vitalnya masalah utang ini, hingga jihadnya seorang hamba di jalan Allah (mati syahid) pun tidak bisa menghapusnya. Abdullah bin Amer meriwayatkan sabda Nabi, “Terbunuh di jalan Allah menghapuskan segala dosa kecuali utang.”(HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasai, At-Tirmidzi, Malik dan Darimi).
Bayangkan, seorang syahid tidak lantas masuk surga jika ia masih memiliki utang. Selama utang itu belum di bayar, keadaannya digantung di akhirat nanti, apakah ia masuk surga atau neraka. Setelah utangnya dipastikan terbayar, ia baru divonis Allah untuk masuk surga. Jadi, betapa urgensinya nilai nilai sebuah utang ini, meski sangat kecil sekalipun angkanya. Sekali lagi, janganlah kita menganggap remeh pada utang.
Sumber: Majalah  Hidayah Edisi 89 Januari 2009

Wednesday, May 15, 2013

DISIPLIN TERHADAP WAKTU



Waktu menunjukkan pukul 07.25 WIB, ketika Pak Badrun melirik ke jam dinding yang menempel di dinding ruang kerjanya. Dia sedang menyusun sebuah laporan tentang kegiatan yang berhubungan dengan kinerja kepala sekolah yang telah diembannya kurang lebih selama tiga tahun ini.  Tiba-tiba ia mendengar suara yang gaduh, mulanya tedengar lamat-lamat lalu perlahan berubah riuh. Mendengar keributan, Pak Badrun yang menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri yang cukup terkenal di kota kabupaten, segera keluar ruangannya untuk mencari sumber keriuhan tersebut. Kegaduhan ternyata bersumber dari sebuah kelas yang kebetulan tidak ada gurunya. Pak Badrun hanya bisa mengurut dada ketika menyaksikan para siswa yang sedang asyik bercanda ria dan bermain-main. Langkahnya yang tegap dan pasti memasuki kelas tersebut, dengan arif ia mencoba untuk menenangkan anak-anak didiknya.
Tak berselang lama, guru yang seharusnya mengajar di kelas itu datang. Dengan langkah pelan dia menghampiri kepala sekolah dan dengan sedikit berbasa basi, ia mohon maaf dan memberikan alasan keterlambatannya. Pak Badrun dapat memakluminya dan memberikan toleransi. Beberapa hari kemudian kejadian serupa terulang kembali. Kali ini tidak satu dua guru yang terlambat, tetapi hampir setengahnya yang terlambat masuk ke dalam kelas. Pak Badrun hanya bisa menghela napas, pertanda ia kecewa atas kinerja bawahannya.
Kejadian di atas merupakan sebuah budaya di tengah masyarakat kita. Kalau budaya buruk terjadi di berbagai bidang kehidupan, bisa dibayangkan dampaknya. Keterlambatan guru di kelas saja membuat siswa terlantar. Bagaimana kalau seorang dokter terlambat mengobati pasiennya?
Sebenarnya keterlambatan yang kerap terjadi hingga melalaikan kewajiban, itu berangkat dari keengganan seseorang menata waktunya dengan sebaik mungkin. Ini sungguh berbeda apabila kita melihat bagaimana sikap para sahabat Rasullah SAW dalam menghargai waktu. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, Zaid bin Tsabit berusia sebelas tahun. Namun dalam usianya yang masih dini, Zaid sudah dapat menghafal enembelas surat panjang dari wahyu Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dia (Zaid) sempat mengikuti perang Khandaq dan beberapa peperangan sesudahnya. Pada saat perang Tabuk meletus, Rasulullah SAW menyerahkan bendera Bani Najar kepadanya, yang semula di pegang oleh Umaroh bin Hazm. Salah seorang sahabat bertanya, kenapa bendera itu diserahkan kepada Zaid yang masih muda. Beliau menjawab, “Al-Qur’an wajib didahulukan, sedangkan Zaid orang yang lebih banyak hafalan Qur’annya.”
Selanjutnya, Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit membuat surat dan mengirimkannya kepada suatu kaum. Untuk mengetahui bahasa kaum tersebut, ia pun mempelajari bahasa Suryani hingga mahir, selama tujuh belas hari. Ia menjadi juru kunci Madinah dalam urusan peradilan, fatwa, qira’at, fara’id dalam usia tiga puluh tahun.
Demikian sejrah gemilang yang berhasil diraih oleh seorang sahabat Rasul yang mengundang kagum di hati kita. Lalu, timbul pertanyaan, bagaimanakah kiat mencapai prestasi gemilang? Tentu saja jawabannya adalah kedisiplinan tinggi dalam memanfaatkan waktu.
Akibat buruknya menata waktu, seorang sahabat bernama Abdullah bin Khansa’ pernah menuturkan penyesalannya telah mengecewakan Rasul. Ia bercerit, “sebelum beliau (Muhammad) diangkat menjadi Rasul, aku pernah membuat janji dengannya untuk datang pada waktu yang telah ditentukan. Tetapi pada hari yang telah ditetapkan aku lupa. Setelah lewat tiga hari, aku datang. Dan ternyata beliau ada di sana. Rasul SAW berkata, “Hai anak muda, kamu telah membuat kesulitan kepadaku. Aku disini sejak tiga hari yang lalu menunggumu.”(HR Abu Daud).
Ini menunjukkan betapa pentingnya waktu. Sampai-sampai Allah bersumpah dengan waktu dalam rangka mengingatkan akan kewajiban beriman, beramal shalih, dan saling menasihati.
Setiap makhluk hidup akan berpacu dengan waktu. Meskipun semua bekerja dalam satuan waktu, sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari keberadaannya dalam waktu. Banyak dari kita  yang merasa bebas dan seolah tidak dibatasi oleh sesuatu apapun. Akibatnya seringkali kita terjebak pada kegiatan yang tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman, “Tiap jiwa akan merasa mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,”(QS al-Anbiya:35).
Rentang waktu yang panjang dari mulai kita dilahirkan hingga meninggal dunia adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT agar kita pandai-pandai mengisinya dengan berbagai amaliyah positif. Kelak di hari kiamat nanti, semua itu akan dijadikan pertimbangan dimana kita ditempatkan.
Allah SWT mengingatkan kita akan pentingnya waktu. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak mengundurkanny barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya,”(QS al-A’raf:34).
Dengan demikian umat manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan masalah besar, yaitu bagaimana memanfaatkan waktu yang amat singkat ini dengan amalan shalih yang sebesar-besarnya. Sementara kehidupan dunia dengan segala perhiasannya menjadi penyebab kelalaian manusia. Untuk itu Rasulullah SAW mengingatkan, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu olehnya. Yaitu sehat dan waktu luang,”(HR Bukhari).
Al-Qur’an lebih tegas menggambarkan manusia-manusia yang menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan (waktu) yang telah diberikan Allah kepada-Nya. “...Dan berkatalah orang-orang yang zhalim, ‘Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami, niscaya kami akan sambut seruan dakwah Engkau dan kami akan mengikuti para rasul. ‘(Kepada mereka dikatakan), ‘Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa’, (QS Ibrahim:44).
Introspeksi sejenak. Saatnyalah buat kita berbenah diri untuk menata waktu kita dengan segala karya dan aktivitas ibadah. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanyalah sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa,”(QS an-Nisaa:77).
(Dari berbagai sumber)

Sunday, May 5, 2013

TTS UMUM

UMUM

a Nunk

This interactive crossword puzzle requires JavaScript and any recent web browser, including Windows Internet Explorer, Mozilla Firefox, Google Chrome, or Apple Safari. If you have disabled web page scripting, please re-enable it and refresh the page. If this web page is saved on your computer, you may need to click the yellow Information Bar at the top or bottom of the page to allow the puzzle to load.
--> -->

--> -->