Tes Paragraf

Monday, August 12, 2013

Abu Nawas Membuat Onar di Tengah Pasar



Suatu hari Abu Nawas berjalan tergesa-gesa ke pasar. Tetapi tujuan Abu Nawas kali ini bukan untuk transaksi jual beli, melainkan hendak berbuat onar. Setelah tiba di pasar. Abu Nawas kemudian menaiki sebuah tempat yang tinggi itu. Di atas tempat yang tinggi itu, dia lantas berpidato, “Saudara-saudaraku sekalian! Ada yang perlu saudara-saudara ketahui tentang Raja kita yang tercinta, baginda Harun Al Rasyid.”
Orang-orang diam, terhipnotis pidato Abu Nawas. Semua pandangan tertuju ke arah Abu Nawas berdiri, bahkan semua orang tidak sabar menunggu kalnjutan pidato Abu Nawas karena dilanda penasaran.
Tetapi Abu Nawas sempat diam beberapa saat. Ketika semua pandangan mata tertuju padanya, Abu Nawas jadi semakin percaya diri. Maka, dia melanjutkan pidatonya kembali, “Kalian semua harus tahu bahwa sebenarnya Baginda Harun Al Rasyid itu lebih kaya dari Allah!”
Seketika itu, orang-orang tercengang dan nyaris tidak percaya. Maka, suasana menjadi gaduh dan ramai, bahkan nyaris terjadi keributan.
“Hai Abu Nawas, kamu jangan mengada-ada!” ucap beberapa orang.
“Hai Abu Nawas, kamu jangan bicara ngawur!” sambung yang lain.
Tapi Abu Nawas memang orang yang cerdik, Ia bisa menguasai diri dan dengan cepat berusaha menenangkan keadaan, “Tenang...tenang...tenang, saudara-saudara. Masih ada lagi yang ingin aku katakan. Mohon, jangan dipotong dulu!”
Orang-orang kembali terdiam. Mereka sudah tak sabar mau mendengar kelanjutan pidato Abu Nawas. Tatkala keadaan sudah tenang. Abu Nawas melanjutkan, “Tak hanya itu saudara-saudara! Baginda kita itu, sebenarnya juga sangaaaaat mencintai fitnah.”

Baca: Abu Nawas Pura-pura Gila
 
Keadaan menjadi gaduh kembali. Orang-orang seperti disulut amarah. Semua orang protes, dan tidak sedikit yang ingin naik ke tempat Abu Nawas berdiri. Tapi, Abu Nawas tampak tenang. Tak ada perasaan bersalah sedikit pun.
Saat belum sempat orang-orang naik ke tempat Abu Nawas berdiri, Abu Nawas merasakan tangan-tangan  kekar dan kuat mencengkram tangannya. Tentu saja, Abu Nawas berusaha menepis dan tetap tenang karena ia ingin menjelaskan lebih jauh maksud di balik pidatonya itu. Sayang, Abu Nawas tidak bisa berkutik. Tangan-tangan kekar itu adalah tangan para pengawal baginda raja yang menyeret Abu Nawas turun dari tempat dia berdiri. Akhirnya, Abu Nawas dihadapkan kepada baginda raja untuk dimintai pertanggungjawaban. Dihadapkan baginda raja, Abu Nawas sama sekali tidak dilanda rasa takut. Dia bahkan tampak tenang, tak menyiratkan ketakutan dan tak menunjukkan penyesalan sama sekali. Maka, dengan geram dan marah, baginda raja langsung bertanya pada Abu Nawas, tanpa basa-basi.
“Apa benar kamu telah berpidato dengan lantang dan keras sekali di tengah pasar untuk mengatakan aku ini lebih kaya dari Allah?” tanya baginda raja, sudah tidak sabar.
“Benar, Baginda,“ jawab Abu Nawas. Lagi-lagi, dia tidak merasa takut sedikit pun dan sama sekali tidak gentar. Bahkan dihadapan sang raja, Abu Nawas tidak merasa ia berada di hadapan sang penguasa yang bisa saja sewaktu-waktu dia dijatuhi hukuman berat.
Tentu, jawaban dari Abu Nawas itu membuat baginda raja semakin geram dan marah. “Apa benar kamu juga berpidato di pasar dan mengatakan kepada orang-orang disana bahwa aku ini mencintai fitnah?”
“Maaf,Baginda. Itu benar adanya,” jawab Abu Nawas tenang. Lagi-lagi, ia tidak merasa takut sedikit pun dan sama sekali tidak gentar
“Pengawal!!” perintah Baginda Raja, “Bawa Abu Nawas ke penjara. Besok pagi, gantung dia di alun-alun!”
“tenang dulu, tengan dulu...Baginda. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan apa maksud di balik kata-kata saya itu,” pinta Abu Nawas dengan memelas.
“Apa lagi yang ingin kamu katakan, Abu Nawas?”
“Saya tidak asal ngomong dan saya punya alasan kenapa berkata seperti itu!”
“Baiklah, cepat katakan sebelum kamu menemui ajal...”
“Begini, Baginda. Saya mengatakan bahwa Baginda lebih kaya dari Allah karena baginda memiliki anak, sedang Allah tidak memiliki anak. Bukan begitu baginda?”
Baginda tersipu. “Dasar, Abu Nawas! Terus, apa maksud kata-katamu bahwa aku mencintai fitnah?”
“Maksudnya, bahwa Baginda Raja sangat mencintai istri dan anak-anak Baginda sendiri. Padahal mereka itu dapat menjadi fitnah bagi Baginda. Bukan begitu Baginda?”
Baginda hanya geleng-geleng kepala. “Lalu kenapa kamu teriak-teriak sekadar mengatakan hal itu di pasar? Tidakkah kamu tahu, bahwa orang-orang itu bisa marah?”
“Itu memang saya sengaja, Baginda! Karena, kalau orang-orang di pasar marah, nanti saya akan dipanggil Baginda.”
“Kalau aku sudah memanggilmu, memang kenapa?”
“Hmmmm...ya biasa, Baginda! Bukankah setelah Baginda Raja memanggil saya, biasanya Baginda akan memberi saya hadiah?” ujar Abu Nawas lirih.
Baginda tersipu malu lantas memerintahkan pengawal untuk mengambil hadiah berupa uang untuk diberikan kepada Abu Nawas.
(Majalah Hidayah Edisi 87/ November 2008)

0 komentar:

Post a Comment